Make your own free website on Tripod.com

Agenda         Akademik         Galeri         Prestasi        Profil

 

Selamat Datang Di Kampusku

SMA BPI II Bandung

Di Sini Hatiku Senang

                                                                                           Foto oleh Djoko Subinarto

 

SELEMBAR IJASAH BUKAN MODAL UTAMA CARI KERJA

Oleh DJOKO SUBINARTO  

HARAPAN hampir setiap mahasiswa begitu berhasil menyelesaikan kuliahnya di perguruan tinggi adalah segera mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang diharapkan kebanyakan mahasiswa yang baru menyelesaikan kuliahnya ini umumnya adalah pekerjaan kantoran dengan gaji -- diharapkan -- yang menggiurkan. Harapan demikian, tentu, wajar dan beralasan. Bagaimanapun, tidak bisa dimungkiri, kuliah itu memerlukan doku yang tidak sedikit. Jadi, selesai kuliah, mestinya harus bisa segera memanen uang. Harus bisa mengembalikan modal, begitu kasarnya.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Artinya, untuk bisa mengeruk uang setelah kuliah tidak semudah membalikkan tangan. Sekarang ini untuk mendapatkan pekerjaan kantoran plus gaji yang menggiurkan setamat kuliah bukan pekerjaan gampang. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi dewasa ini yang pontang-panting seberes kuliah memburu pekerjaan ke sana ke mari. Banyak di antaranya, bahkan, hingga bertahun-tahun sama sekali belum mendapat pekerjaan -- baik yang didambakan maupun yang tidak didambakan. Alhasil, setelah kelar kuliah, mereka terpaksa menganggur. Padahal, sudah berapa ratus pucuk surat lamaran dibuat dan diajukan ke berbagai kantor serta perusahaan.

Adakah sesuatu yang salah?

Sudah barang tentu ada. Letak kesalahannya adalah bahwa kebanyakan mahasiswa dan calon mahasiswa kita masih menganut pola pikir bahwa modal utama memperoleh pekerjaan adalah gelar dan ijasah yang didapatnya setelah sekian tahun kuliah. Maka begitu selesai kuliah, ijasah inilah yang dijadikan senjata utama untuk memburu dan meraih pekerjaan yang diinginkan.

Dulu, beberapa puluh tahun ke belakang, dengan modal gelar dan ijasah di tangan, seorang lulusan perguruan tinggi sangat boleh jadi dapat dengan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tapi, sekali lagi, itu dulu. Sekarang jamannya sudah lain, lho. Lowongan pekerjaan terbatas, sementara lulusan perguruan tinggi terus-terusan bejibun. Secara demikian, bisa dibayangkan akan betapa sengit dan ketatnya persaingan untuk memperoleh sebuah lowongan pekerjaan dewasa ini.

Nah, untuk itu, pola pikir seperti yang dipaparkan di atas tampaknya perlu dibuang jauh-jauh. Kini bukan jamannya lagi hanya menjadikan gelar dan selembar ijasah sebagai modal satu-satunya untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, pemikiran bahwa setamat kuliah harus selalu (dan segera) mendapatkan pekerjaan kantoran juga mesti diubah.

Pola pikir yang sekarang perlu dikembangkan oleh para mahasiswa dan calon mahasiswa adalah gelar dan selembar ijasah yang dihasilkan setelah kuliah adalah cuma tambahan sedikit modal untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian, gelar dan ijasah bukan satu-satunya modal utama untuk mereka yang memburu pekerjaan setelah kuliah. Modal utama untuk memburu pekerjaan sekarang ini adalah skill alias keahlian. Skill ini bisa didapat dari bangku kuliah maupun dari luar bangku kuliah.

Selain itu, harus pula ditanamkan bahwa setamat kuliah kita tidak harus bekerja di sebuah kantor atau perusahaan. Dengan kata lain, seberes kuliah kita sebetulnya dapat bekerja dengan jalan menciptakan usaha dan lapangan kerja sendiri. Dengan demikian pula, tidak ada ceritanya seorang lulusan perguruan tinggi harus menganggur sekian lama sambil terus keluar-masuk kantor dan perusahaan menawar-nawarkankan gelar dan selembar ijasah yang didapatnya demi memperoleh sebuah posisi pekerjaan.

Pertanyaannya sekarang, tentu saja, bagaimana cara menciptakan peluang kerja agar nanti selepas kita kuliah dapat bekerja secara mandiri?

Pepatah kuna mengatakan, banyak jalan menuju kota Roma. Artinya, banyak cara untuk mewujudkan sebuah tujuan. Salah satu cara untuk menciptakan peluang kerja adalah memulai dari minat yang kita miliki. Cobalah mengembangkan minat yang kita punyai itu sejak berada di bangku kuliah atau bangku sekolah (bagi yang belum kuliah). Jadikan minat itu untuk merintis sebuah usaha. Gunakanlah waktu senggang saat sedang tidak sibuk kuliah untuk merintis usaha itu. Di akhir pekan, misalnya.

Beberapa mahasiwa yang saya kenal, umpamanya, membuka usaha warung tenda saban akhir pekan di salah satu sudut di Kota Bandung ini. Salah satu mahasiswa kenalan saya yang lain, mengembangkan minatnya di dunia fotografi. Di sela-sela kesibukannya kuliah, dia menerima orderan pemotretan.

Pengembangan minat seperti ini sudah seyogianya ditumbuhsuburkan dikalangan para mahasiswa, bahkan para calon mahasiswa. Masing-masing orang, sudah barang tentu, punya minat  -- plus bakatnya -- sendiri-sendiri. Kenalilah minat dan bakat itu. Kemudian, gali dan kembangkan minat serta bakat itu untuk menciptakan lapangan usaha sendiri yang mandiri. Tidak perlu ragu. Orang Ingris bilang, there is a will, there is a way. Setiap ada kemauan, di situ ada jalan.***

 

Alamat SMA BPI II

 Jalan Burangrang 8, Bandung 40262

Telefon:

Faksimili:

Email: